String of Pearls

String of Pearls (SP) ialah sebuah teori geopolitik untuk menjelaskan maksud dan tujuan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di kawasan Samudera Hindia. SP menjelaskan investasi pelabohan yang dilakukan RRT di beberapa negara pantai di tepi Samudera Hindia. Pelabuhan-pelabuhan yang dibangun RRT tersebut diduga (berdasarkan hipotesa teori SP) digunakan untuk mendukung operasional People’s Liberation Army Navy (PLAN) / Angkatan Laut RRT.

Pertumbuhan ekonomi RRT didukung dan tergantung oleh perdagangan internasional yang dilaksanakan lewat laut. Salah satu komditas yang diimpor oleh RRT ialah minyak dan gas (migas). Walaupun kebanyakan pembangkit listrik di RRT ialah Pembangkit Listrik tenaga Batu Bara (70%), minyak mentah merupakan sumber energi yang vitas bagi pertumbuhan ekonominya dan hampir seluruh pasokan minyak RRT dikirim dari luar negeri melalui laut dari kawasan Timr Tengah dan Afrika. Diperkirakan 80% impor minyak RRT dikirimkan melalui Sea Lanes of Communication / Jalur Komunikasi Pelayaran Laut (SLOC) dengan rute Samudera Hindia-Selat Malaka-Laut Cina Selatan (LCS)-daratan Tiongkok. Pasokan minyak amat penting bagi RRT karena dibutuhkan untuk menggerakan sektor transportasi (truk, kapal laut, pesawat terbang dan kereta api) untuk menggerakan ekonomi dan kendaraan pribadi warga RRT yang jumlahnya terus bertambah karena meningkatnya tingkat kesejahteraan. Terganggunya pasokan minyak berpotensi untuk melumpuhkan RRT. Pemerintah RRT menyadari bahwa pertumbuhan ekonominya berhubungan erat dengan akses berkelanjutan terhadap SLOC Samudera Hindia-Selat Malaka-LCS.

Salah satu jalan keluar yang diadopsi oleh Pemerintah RRT ialah berinvestasi pada infrastruktur pelabuhan di negara-negara pantai Samudera Hindia. Berikut merupakan daftar investasi RRT dalam bentuk infrastruktur pelabuhan dan fasilitas militer untuk memastikan keberlangsungan pasokan minyak impor:

string-of-pearls-india-china-2

string-of-pearls1

138kim3

Investasi RRT di pelabuhan-pelabuhan negara-negara pantai Samudera Hindia dapat dianalisis menggunakan hipotesa Alfred Thayer Mahan. Mahan, seorang Perwira Angkatan Laut AS, Strategis, dan Pengarang di bidang Kekuatan Laut / Sea Power, menghubungkan perdagangan maritim-kekayaan negara-kekuatan laut. Mahan mengatakan bahwa:

  1. Perdagangan Internasional penting bagi sebuah negara untuk menjamin kesejahteraan ekonominya;
  2. Untuk menjamin perdagangan internasional dan kesejahteraan ekonomi, sebuah negara wajib melindungi SLOC dari segala ancaman dan gangguan;
  3. Perlindungan hanya dapat dilaksanakan oleh Angkatan Laut (AL) yang kuat;
  4. Pangkalan depan (forward base) di lokasi strategis amat penting untuk mendukung operasional kapal perang AL;
  5. Oleh karena itu pangkalan-pangkalan ini wajib ditempatkan sepanjang SLOC untuk mengendalikan dan melindungi SLOC dari musuh dan ancaman-ancaman lainnya.

Berdasarkan hipotesa Mahan tersebut, investasi infrastruktur RRT di negara-negara pantai Samudera Hindia disepanjang SLOC dapat diartikan sebagai upaya Pemerintah RRT mengamankan SLOC pasokan minyak dengan menempatkan pangkalan depan yang berpotensi mendukung opeasional People’s Liberation Army Navy (PLAN). Pelabuhan-pelabuhan tersebut diibaratkan sebagai rangkaian mutiara-mutiara / string of pearls.

Sampai saat ini, RRT telah berinvestasi di negara-negara pantai di wilayah Samudera Hindia. Di tahun 2016, Malaysia telah mengundang RRT untuk berinvestasi membangun terminal ke-3 di Port Klang, Selat Malaka. Secara bertahap, RRT telah berinvestasi di lokasi-lokasi strategis disekitar SLOC Samudera Hindia-Selat Malaka-SCS.

Namun dengan memperhatikan ilustrasi-ilustrasi di atas, RRT belum memiliki investasi infrastruktur pelabuhan di wilayah SCS.  Berikut merupakan ilustrasi choke point SLOC di SCS yang dapat menghambat keberlanjutan pasokan minyak ke RRT dan alur pasokan Liquified Natural Gas (LNG):

oil

scs-lng-flow

sea-chokepoints

 

Fakta yang memperkuat teori “String of Pearls“:

  1. 12 Desember 2011, RRT mengumumkan akan membangun pangkalan militer di Mahe, Seychelles.
  2. Pada bulan September dan November 2014, kapal selam PLAN merapat di pelabuhan Kolombo, Sri Lanka.
  3. Maret 2016, RRT mendirikan pangkalan militer permanen di Djibouti, Tanduk Afrika, dalam bentuk fasilitas logistik untuk PLAN, sekaligus mendukung operasi anti perompakan di Samudera Hindia.

One Belt One Road (OBOR)

The Silk Road Economic Belt and the 21st-century Maritime Silk Road, atau disebut juga One Belt One Road Initiative (OBOR) merupakan strategi pembangunan yang diusulkan oleh Pemerintah RRT. OBOR pertama kali diresmikan oleh Pemerintah RRT di tahun 2013. Istilah “Silk Road” diberikan oleh ahli geografi Jerman, Ferdinand von Richtofen di tahun 1877, merujuk kepada beberapa rute perdagangan yang membangun hubungan dagang dan budaya antara Tiongkok dengan India, Persia, Arab, Yunani, Roma dan kawasan Laut Tengah. Silk Road dibentuk pada masa Kerajaan Dinasti Han Tiongkok, dari Xian (Chang’an) sampai kawasan Laut Tengah, menghubungkan Tiongkok dan Kerajaan Romawi.

OBOR terdiri dari 2 (dua) komponen: Silk Road Economic Belt (SREB) di darat dan Maritime Silk Road (MSR) di laut. Presiden Xi Jinping memilih dua lokasi berbeda untuk menyampaikan dua komponen OBOR; SREB disampaikan di Kazakhstan pada bulan September 2013 dan MREB disampaikan di Jakarta, Republik Indonesia pada bulan Oktober 2013. Untuk membiayai OBOR, pemerintah RRT dan beberapa negara mitra / sahabat membentuk tiga institusi finansial (alternatif World Bank, International Monetary Fund (IMF) dan Asia Development Bank (ADB):

  1. Silk Road Infrastructure Fund; Pemerintah RRT menyediakan dana sebesar USD 40 Milyar untuk diinvestasikan untuk pembangunan infrastruktur. Diresmikan bulan Februari 2014.
  2. Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB); Saat ini sudah tercatat 26 negara di kawasan Asia, Oseania, Eropa, dan Afrika menandatangani Memorandum Saling Pengertian pembentukan AIIB termasuk RI. Modal yang terdaftar sebesar USD 100 Milyar. Dibentuk pada bulan Oktober 2014.
  3. New Development Bank (NDB); didirkan oleh 5 (lima) negara BRICS: Brazil, Rusia. India, Cina (RRT) dan Afrika Selatan. Modal awal USD 50 Milyar, dan akan ditingkatkan hingga mencapai USD 100 Milyar. Dibentuk 15 Juli 2014.

Rute OBOR melewati 3 (tiga) benua, Asia-Eropa-Afrika. SREB bertujuan untuk menghubungkan RRT dengan kawasan Asia Tengah, Rusia, Eropa (kawasan Baltik), serta Teluk Persia dan Laut Tengah. Sedangkan MREB menghubungkan RRT dengan Eropa melelui Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan (SCS) dan RRT ke kawasan Pasifik Selatan melalui SCS.

Berikut ilustrasi-ilustrai terkait OBOR:

one_belt_one_road

obor1

image-1045813-640_panofree-qkde-1045813

OBOR merupakan inisiatif kerja sama regional ambisius RRT guna menciptakan rute perdagangan via darat dan laut. OBOR melibatkan 60 negara, termasuk RI, dan berpotensi untuk mencakup 65% populasi dunia, 1/3 Gross Domestic Product (GDP) dunia dan 1/4 pergerakan barang dan jasa dunia.  Beberapa negara yang dilalui oleh rute OBOR belum / tidak memiliki infrastruktur pendukung yang memadai (pelabuhan, jalur kereta, bandar udara).

Jika dibandingkan oleh Marshall Plan Amerika Serikat (bantuan pembangunan kembali Eropa pasca Perang Dunia ke-2), ukuran OBOR diperkirakan 12 kali lebih besar. Asia Development Bank (ADB) memperkirakan bahwa dana yang dibutuhkan untuk membangun seluruh infrastruktur OBOR (2015-2020) mencapai USD 8 Trilyun.

Fakta terkait OBOR:

  1. OBOR dibandingkan dengan Marshall Plan AS. Pemerintah RRT berusaha memperkuat / memperluas pengaruh politik (sphere of influence) ke negara-negara di kawasan Asia, Eropa, Afrika dan Oseania.
  2. OBOR dipandang sebagai strategi global RRT untuk mendukung perluasan kekuatan PLAN dan memastikan ketahanan energi (Migas).
  3. OBOR merupakan rencana Partai Komunis Tiongkok (dan Presiden Xi Jinping) untuk mempertahankan legitimasi dengan memastikan peningkatan kesejahteraan rakyat Tiongkok berdasarkan pembangunan perekonomian berbasis perdagangan luar negeri.

Kepentingan Nasional RI berkaitan dengan String of Pearls dan OBOR

RI memiliki posisi yang amat strategis secara geografis dalam strategi String of Pearls dan OBOR. SLOC dalam String of Pearls dan OBOR harus melintasi Selat Malaka dan melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 RI ke SCS dan sampai di daratan Tiongkok. Jalur pasokan energi berbasis migas dan perdagangan internasional via laut RRT akan melintasi wilayah perairan teritorial, kepulauan dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) RI. Jika terjadi satu dan lain hal yang akan menghalangi SLOC tersebut, maka pasokan migas dan jalur perdagangan RRT akan terganggu. Ilustrasi berikut dapat menjelaskan lebih lanjut:

maritime-interests12

SLOC menuju RRT akan melewati ALKI 1, ALKI 2 atau harus memutari Australia jika RI tiba-tiba memutuskan karena satu dan lain hal untuk menutup / memblokade perairannya. Oleh karena itu RRT, secara logis, akan berusaha menjaga hubungan diplomatik sebaik-baiknya untuk menjaga SLOC untuk tetap terbuka. Menurut strategi “String of Pearls“, maka RRT akan menawarkan investasi pengembangan infrastruktur pelabuhan yang lokasinya secara strategis disekitar Selat Malaka dan SCS guna mendukung upaya pengamanan SLOC dan operasi PLAN.

Presiden Xi Jinping memilih Jakarta dalam dalam meresmikan MSR. MSP diresmikan di Jakarta, Indonesia, di hadapan parlemen RI. Proyek MSP yang ditawarkan termasuk pembangunan infrastruktur pelabuhan (umum dan perikanan), jembatan, jalan raya, kereta api, termasuk fasilitas penunjang pelayaran: sensor darat, satelit, radar dan lain sebagainya. Namun, investor RRT memiliki preferensi tersendiri terkait lokasi dimana infrastruktur dan fasilitas-fasilitas tersebut akan dibangun. Lokasi untuk pelabuhan yang diusulkan ialah di Pulau Sabang, Pulau Natuna, Bitung-Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Merauke.

Mengapa lokasi-lokasi tersebut dipilih oleh RRT? hal ini dapat terjawab dengan sendirinya jika memperhatikan lokasi-lokasi tersebut di peta yang ada di ilustrasi-ilustrasi di atas. Lokasi-lokasi tersebut berdekatan dengan SLOC utama dan alternatif perdagangan internasional dan pasokan migas RRT. Jika dianalisis menggunakan teori “String of Pearls“, khususnya dalam rangka mendukung operasi kapal perang, maka posisi-posisi yang dipilih tersebut amat strategis untuk mendukung operasi militer di laut khususnya untuk persiapan dan logistik di kawasan Selat Malaka dan SCS.

Dalam upaya mencapai “Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia” melalui Nawa Cita, Pemerintah RI sedang membangun infrastruktur khususnya yang mendukung konektifitas di laut, darat dan udara. Di laut Pemerintah RI sedang membangun Tol Laut yang akan memastikan kemudahan logistik sehingga pergerakan manusia, pasokan barang / logistik dan harga komoditas akan mudah dan murah di semua lokasi di Indonesia. Di pulau-pulau terdepan Pemerintah RI sedang meningkatkan investasi karena janji pemerintah untuk membangun dari pinggiran (pulau terdepan dan wilayah perbatasan) untuk menjamin kesejahteraan rakyat Indonesia dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Satu jenis infrastruktur yang paling penting ialah pelabuhan.

Kesimpulan

Pemerintah RI wajib berpikir panjang terhadap OBOR, karena investasi infrastruktur, khususnya pelabuhan yang ditawarkan dapat lebih menguntungkan RRT dalam hal sebagai berikut:

  1. Meningkatnya pengaruh politik RRT di RI seiring dengan meningkatnya investasi. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa investasi RRT akan bebentuk pinjaman lunak yang pada saatnya harus dibayar kembali. Walaupun jika Pemerintah RI berhutang untuk infrastruktur, terorinya akan dapat dibayar seiring meningkatnya perekonomian RI yang didukung oleh infrastruktur yang dibangun tersebut. Pemerintah RI membutuhkan investasi dan negara yang cukup kaya untuk memberikan bantuan (pinjaman lunak) cepat dan mudah ialah RRT.
  2. Pelabuhan yang akan dibangun dengan dibiayai oleh investasi RRT ialah pelabuhan komersial / sipil, namun dapat saja pelabuhan-pelabuhan tersebut digunakan sebagai tempat bersandar kapal perang RRT, sebagaimana terjadi di Srilanka. menurut United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, negara pantai wajib memberikan akses pelabuhan kepada kapal berbendera asing, baik sipil maupun militer, tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi. Namun bisa saja nantinya pelabuhan-pelabuhan yang dibangun di lokasi-lokasi tertentu tersebut melalui inisiatif OBOR malah menguntungkan RRT jauh lebih banyak daripada menguntungkan Pemerintah RI, sesuai dengan strategi “String of Pearls“.
  3. RRT baru saja meresmikan pangkalan militer di luar negeri pertamanya di Djibouti, Afrika, guna mendukung opersional PLAN (untuk istirahat dan logistik) dalam operasi anti bajak laut di Samudera Hindia. Hal ini dapat dengan mudah diemulasi oleh Pemerintah RRT ditukar dengan bantuan ekonomi kepada Pemerintah RI.
  4. Pemerintah RRT sedang memaksakan klaimnya di wilayah SCS melalui Nine-Dash Lines (9 DL). Kapal-kapal pemerintah RRT (Armada Maritime Surveillance State Oceanic Administration (SOA) RRT) beroperasi di wilayah 9 DL mengawal kapal-kapal perikanan RRT yang beroperasi menangkap ikan. Investasi RRT di kepulauan Natuna dalam bentuk pelabuhan atau pusat industri komoditas tertentu sebagai contoh, tentunya akan lebih menguntungkan Pemerintah RRT sekaligus memperkuat klaimnya di SCS karena dapat digunakan untuk mendukung operasional kapal-kapal SOA dan kapal perikanan RRT.

slide11

natuna

Referensi:

https://csis-prod.s3.amazonaws.com/s3fs-public/legacy_files/filespublication/140624_issuesinsight_vol14no7.pdf

http://www.heritage.org/research/reports/2013/01/chinas-global-investment-rises-the-us-should-focus-on-competition

http://www.huffingtonpost.com/brahma-chellaney/chinese-subs-in-indian-ocean_b_7320500.html

https://en.wikipedia.org/wiki/String_of_Pearls_(Indian_Ocean)

China’s String of Pearls Strategy

String of Pearls: Chinese Geopolitics in the Indian Ocean

http://www.eaglespeak.us/2011/08/refresher-world-trade-route-chokepoints.html

http://www.eaglespeak.us/2007/12/sea-lines-of-communication-sloc.html

http://www.spiegel.de/international/world/china-increasing-overseas-ambitions-with-maritime-silk-road-a-1110735.html

China’s Maritime Silk Road project advances

http://thediplomat.com/2015/12/is-chinas-maritime-silk-road-a-military-strategy/

http://www.mckinsey.com/global-themes/china/chinas-one-belt-one-road-will-it-reshape-global-trade

China’s rise as a regional and global power: The AIIB and the ‘one belt, one road’

https://www.clsa.com/special/onebeltoneroad/

China’s Xi Jinping Talks Up ‘One Belt, One Road’ as Keynote Project Fizzles

Iklan